, ,

Sungai Ciliman Kembali Tewaskan Dua Korban: Kisah Pilu Haikal dan Habibi Terbawa Arus

oleh -215 Dilihat

Air Mata di Sungai Ciliman: Kisah Pilu Haikal dan Habibi yang Terbawa Arus

Majalah Banten– Sungai Ciliman yang biasanya ramai dengan celoteh riang anak-anak, kini diselimuti kesunyian yang pilu. Di Kampung Rancahideung, Desa Karyasari, Kecamatan Sukaresmi, alirannya yang tenang telah berubah menjadi lorong maut yang merenggut dua nyawa murni: Haikal (9) dan Habibi (9). Petaka yang terjadi pada Sabtu (25/10) siang itu akhirnya berujung pada penemuan yang mengharukan, setelah pencarian tanpa henti selama tiga hari.

Senin (27/10) pagi, kabar duka itu akhirnya tiba. Tim SAR Gabungan yang tak kenal lelah berhasil menemukan jasad kedua bocah malang tersebut. Namun, harapan untuk menyambut mereka dengan pelukan hangat telah pupus. Sungai Ciliman mengembalikan jasad mereka dalam keadaan tak bernyawa, menutup tirai pencarian dengan duka yang mendalam bagi seluruh warga.

Detik-Detik Penemuan yang Mengharukan

Pencarian yang melibatkan gabungan Basarnas Banten, polisi, TNI, relawan, dan masyarakat itu akhirnya membuahkan hasil di pagi buta yang kelam.

Kepala Kantor Basarnas Banten, Al Amrad, dengan suara bergetar menyampaikan kronologi penemuan. “Untuk korban pertama atas nama Haikal ditemukan pada pukul 06.10 WIB, berjarak sekitar 4,5 kilometer dari lokasi kejadian,” jelasnya. Jejak nestapa itu berlanjut sekitar 40 menit kemudian. “Korban kedua, Habibi, ditemukan sekitar pukul 07.50 WIB sejauh 5 kilometer dari lokasi kejadian.”

Tenggelam Saat Main di Sungai Ciliman Pandeglang, 2 Bocah Ditemukan Tewas

Baca Juga: Di Balik Pesona Alam Pandeglang, Jalan Penghubung Desa Terkubur dalam Kubangan

Koordinat tepat penemuan Habibi, 6°31’41.27″S – 105°50’31.77″E, kini bukan sekadar angka di peta, melainkan titik akhir perjalanan hidup seorang anak yang seharusnya masih mengejar mimpi. Jarak yang membentang antara lokasi kejadian dan titik penemuan menjadi saksi bisu betapa kuatnya arus Sungai Ciliman yang membawa kedua bocah itu.

Kedua jasad kemudian dievakuasi dengan penuh khidmat menuju Puskesmas Perdana Sukaresmi untuk pemeriksaan medis sebelum akhirnya diserahkan kepada keluarga yang telah menanti dengan hati remuk di Kampung Taraju. Dengan ditemukannya kedua korban, operasi SAR pun resmi ditutup, mengakhiri babak pencarian yang penwith ketegangan dan harapan.

Kronologi Tragedi: Permainan Berubah Jadi Bencana

Bagaimana bisa sebuah permainan sore yang ceria berubah menjadi tragedi yang menyayat hati? Semuanya bermula pada Sabtu (25/10) sekitar pukul 15.20 WIB.

Haikal dan Habibi, seperti anak-anak seusia mereka, sedang menikmati waktu bermain di tepi Sungai Ciliman. Mereka menemukan sebuah perahu yang terikat di tepian. Dengan riang, mereka naik dan bermain dengan melompat dari perahu ke air, lalu naik kembali. Itu adalah pemandangan yang biasa di pedesaan.

Namun, takdir berkata lain. Saat mereka asyik bermain, tali pengikat perahu yang sudah lapuk tiba-tiba putus. Perahu yang seharusnya menjadi tempat bermain berubah menjadi ancaman. Dalam kepanikan melihat perahu mereka hanyut, kedua bocah itu diduga melompat ke sungai. Arus yang deras, mungkin diperparah oleh cuaca atau faktor lain, langsung menyambar tubuh mungil mereka. Dalam sekejap, mereka terbawa arus, menghilang dari pandangan, dan meninggalkan jejak kepanikan.

Beni Madsira, Ketua Kampung Siaga Bencana (KSB) Banten, yang dikonfirmasi via WhatsApp pada Minggu (26/10), membenarkan kronologi ini. “Karena tali perahu putus, kedua orang itu melompat hingga terbawa arus aliran sungai,” ujarnya.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.